Prinsip Operasional dan Pendekatan Hukum

11 February 2021

Bagikan:   
facebook twitter wa
Thumbanail Edukasi

Prinsip operasional dan pendekatan hukum

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, pengertian perbankan konvensional adalah bank melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sementara bank syariah, mengacu UU No. 21 Tahun 2008, menjalankan kegiatan perbankan berdasarkan prinsip syariah.  

Pada bank konvensional, seluruh transaksi dan perjanjian menggunakan pendekatan hukum positif Indonesia. Dalam hal ini, hukum yang digunakan adalah hukum perdata dan pidana. Sedangkan perbankan syariah menjalankan hukum Islam, termasuk dalam implementasi akad bagi hasil, jual beli, serta pinjam meminjam.

Kebijakan bunga dan margin

Dalam menjalankan aktivitasnya, bank konvensional dan bank syariah berupaya memberikan keuntungan kepada para nasabahnya. Dalam hal menghimpun dana pihak ketiga (DPK), misalnya, perbankan konvensional menerapkan kebijakan bunga simpanan, sedangkan bank syariah tidak mengenal sistem bunga. Sebab, bunga adalah riba dan diharamkan dalam Islam.

Dalam menghimpun pendanaan, bank syariah menerapkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dalam bentuk giro, tabungan dan sejenisnya. 

Perbedaan kebijakan bunga antara bank konvensional dan bank syariah juga berlaku dalam hal pengucuran kredit atau pembiayaan. Bank konvensional mengenakan bunga, sementara bank syariah menerapkan transaksi yang tak melanggar syariat Islam, seperti akad bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), sewa menyewa (ijarah), jual beli (murabahah dan istishna), serta pinjam meminjam (qardh). 

Kebijakan kredit

Perbedaan selanjutnya antara bank konvensional dan bank syariah adalah terkait kebijakan kredit atau pembiayaan. Di bank konvensional, nasabah boleh mengajukan pinjaman dana untuk jenis usaha yang dimungkinkan oleh hukum positif yang berlaku di Indonesia. Meski usaha tersebut tidak halal berdasarkan prinsip syariah, misalnya minuman beralkohol, apabila diakui dalam hukum positif di Indonesia, maka bank konvensional tetap bisa menyalurkan pinjaman ke nasabah yang menjalankan bisnis minuman beralkohol.

Sedangkan pada bank syariah, nasabah bisa meminjam dana apabila jenis usahanya halal dan sesuai dengan prinsip syariat Islam. Asalkan sesuai prinsip syariah, beberapa jenis usaha tersebut bisa mendapatkan pembiayaan, seperti di bidang perdagangan, transportasi, peternakan, pertanian, dan lain sebagainya.

Pendekatan tujuan dan orientasi

Dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, perbankan konvensional biasanya menerapkan prinsip untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Demi mengejar keuntungan, biasanya, bank konvensional akan mematok bunga kredit jauh lebih tinggi dibandingkan memberikan bunga simpanan kepada nasabah. Bank konvensional juga lebih ketat menyeleksi calon debitur untuk menekan non performing loan alias kredit macet. 

Sedangkan bank syariah, selain berorientasi pada keuntungan, biasanya mereka mengedepankan prinsip dan tujuan untuk kemakmuran bersama serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, bank syariah kerap dihadapkan pada masalah kredit macet yang cukup tinggi.

Pengawasan internal

Di setiap perusahaan, termasuk perbankan, tentu ada mekanisme pengawasan internal demi keberhasilan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Pada perbankan konvensional, pengawasan internal direpresentasikan dengan tim audit internal maupun manajemen risiko.

Sedangkan pada bank syariah, selain audit internal dan manejemen risiko, semua transaksi perbankan berada dalam pengawasan Dewan Pengawas Syariah, yang berasal dari kalangan ahli ilmu Islam dan ahli ekonomi yang mengerti tentang fiqih muamalah. Dewan Pengawas Syariah berasal dari rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.

Hubungan dengan nasabah

Biasanya, perbankan konvensional memperlakukan hubungan dengan nasabah secara profesional, yakni antara kreditur (bank) dan debitur (nasabah). Jika pembayaran kredit oleh debitur lancar, maka pihak perbankan akan memberikan apresiasi dan catatan positif. Debitur juga tidak akan masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia. Namun, jika pembayaran pinjaman macet, maka pihak bank akan menagih, bahkan bisa berujung pada penyitaan aset yang diagunkan.

Sedangkan bank syariah, meski tetap berlaku hubungan bisnis profesional, mereka memperlakukan nasabah selayaknya mitra sejajar dengan ikatan perjanjian yang transparan. Perbankan syariah juga tetap memperlakukan nasabah secara profesional, namun lebih menerapkan pendekatan kemitraan dan kekeluargaan terlebih dahulu.


Artikel Terbaru

Thumbanail Edukasi

1 March 2021

Pembiayaan Akad Murabahah

Di bank syariah ada beberapa jenis akad

Thumbanail Edukasi

16 February 2021

Istilah Keuangan Syari'ah

“Tunaikanlah amanah (titipan) kepada yang berhak"

Thumbanail Edukasi

11 February 2021

Perencanaan Keuangan Syariah

Merencanakan keuangan pribadi dan keluarga

Thumbanail Edukasi

11 February 2021

Prinsip Operasional dan Pendekatan Hukum

Prinsip operasional bank syariah